Kepergian Sosok Penuh Warna di Sepak Bola Inggris
Dunia sepak bola Inggris kehilangan salah satu figur paling kontroversial dan penuh warna setelah Ken Bates, mantan pemilik dan ketua Chelsea, meninggal dunia pada usia 94 tahun. Kabar duka ini diumumkan langsung oleh Chelsea FC pada Sabtu sore waktu setempat. Klub mengabarkan bahwa Bates meninggal dengan tenang di Monaco, didampingi istri dan keluarganya.
Dalam pernyataan resmi, Chelsea menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. “Klub menyampaikan belasungkawa tulus kepada istri Ken, Suzannah, serta seluruh keluarga dan sahabatnya. Kegigihan Ken dalam memperjuangkan Chelsea di masa sulit dan tekadnya membawa tim meraih trofi tidak akan pernah dilupakan,” tulis pernyataan tersebut.
Perjalanan Bisnis yang Mengubah Chelsea
Ken Bates dikenal luas sebagai pengusaha yang membeli Chelsea pada awal 1980-an dengan harga hanya £1, karena klub saat itu terlilit utang parah dan terdegradasi ke Divisi Dua. Bates melihat peluang dan kembali ke London untuk membangkitkan raksasa tidur era 1960-an dan 1970-an. Ia mengucurkan dana bagi manajer John Neal, yang kemudian mendatangkan pemain seperti Kerry Dixon, Pat Nevin, dan David Speedie. Hasilnya, Chelsea kembali ke Divisi Satu pada 1984.
Keputusan paling monumental Ken Bates adalah menjual Chelsea kepada taipan Rusia Roman Abramovich pada 2003 senilai £140 juta. Saat itu klub memiliki utang £80 juta yang sulit dibayar. Penjualan ini mengubah wajah sepak bola Inggris dan Eropa, dengan Abramovich yang mulai membelanjakan uang besar-besaran. Chelsea menjadi kekuatan dominan, dan harga transfer pemain meroket di mana-mana. Bates tetap menjabat sebagai ketua hingga Maret 2004.
Kontroversi di Stamford Bridge
Meski berhasil menyelamatkan dan membangun kembali Chelsea, Ken Bates juga terlibat berbagai kontroversi. Pada 1985, ia memasang pagar listrik setinggi 12 kaki di sepanjang lapangan Stamford Bridge untuk mencegah penonton masuk. Rencana ini batal diaktifkan setelah intervensi dewan kota London atas alasan keselamatan.
Di era 1990-an, Bates berseteru sengit dengan wakil ketua sekaligus donatur Matthew Harding. Namun, berkat bantuan dana Harding, Bates berhasil merenovasi Stamford Bridge dan membangun tim yang sukses di bawah asuhan Glenn Hoddle, Ruud Gullit, dan Gianluca Vialli. Para pemain bintang seperti Marcel Desailly, Roberto Di Matteo, dan Gianfranco Zola berhasil mempersembahkan berbagai trofi, termasuk Piala FA, Piala Liga, dan Piala Winners.
Petualangan di Leeds United dan Kontroversi Lain
Setelah meninggalkan Chelsea, Ken Bates membeli 50% saham Leeds United pada 2005. Ambisinya mengulang sukses Chelsea, tetapi hasilnya jauh berbeda. Di bawah kepemimpinannya, Leeds jatuh ke administrasi pada 2007 dengan utang £30 juta, termasuk £7 juta kepada otoritas pajak. Klub terkena pengurangan poin 10 dan 15, sehingga terdegradasi hingga ke League One. Meski akhirnya kembali ke Championship pada 2010, Leeds gagal menembus Premier League di era Bates. Para suporter terus memprotesnya, hingga ia menjual klub pada 2012 dan pensiun ke Monaco pada 2013.
Skandal Rasisme dan Tuduhan ‘Miscarriage of Justice’
Kontroversi lain menimpa Ken Bates pada 2018 terkait skandal rasisme di akademi Chelsea. Sejumlah mantan pemain muda mengaku dilecehkan secara rasial oleh pelatih selama masa jabatannya. Alih-alih bersimpati, Bates justru mengkritik para korban yang ingin identitasnya dirahasiakan dan mempertanyakan mengapa mereka tidak melapor saat masih anak-anak. Ia menyebut tuduhan itu sebagai “trial by smear” dan menuding adanya aroma uang. Pernyataan ini mendapat kecaman keras dan disebut “sangat memalukan”. Pada 2022, Chelsea sepakat membayar ganti rugi di luar pengadilan kepada delapan mantan pemain muda yang menggugat.
Warisan yang Tak Terlupakan
Di balik segala kontroversi, tidak dapat disangkal bahwa Ken Bates telah meninggalkan jejak besar di sepak bola Inggris. Ia juga sempat menjadi pemilik klub Partick Thistle pada pertengahan 1980-an dan menjabat di eksekutif FA hingga 2001. Dalam wawancara pada 2024, ia berkata, “Saya telah membuat banyak musuh, tetapi saya juga membuat banyak teman tertawa: itulah epitaf saya.” Kepergiannya menutup lembaran panjang seorang tokoh yang tak pernah sepi dari sorotan.
- Masa kecil sulit: Yatim piatu sejak lahir, dibesarkan kakek-nenek di flat dewan Ealing, London Barat.
- Karier bisnis: Sukses di bidang angkutan, tambang, beton siap pakai, dan peternakan sapi perah sebelum terjun ke sepak bola.
- Kepemilikan klub lain: Ketua Oldham (1965), wakil presiden Wigan (1980), dan pemilik Partick Thistle (1980-an).
Dengan semua pasang surut yang ia alami, Ken Bates akan selalu dikenang sebagai sosok yang berani mengambil risiko, keras kepala, namun juga berjasa membawa Chelsea dari jurang kehancuran menuju puncak kejayaan.
