Kritik Gaya Usang Tuchel: Inggris Butuh Pelatih Berani Ambil Risiko

Tuchel dan Gaya Inggris Usang yang Menuai Kritik

Hanya timnas Inggris yang bisa meraih medali perunggu Piala Dunia setelah mengalahkan Prancis dalam laga 10 gol, namun tetap lebih marah kepada manajernya. Emosi masih memuncak setelah kekalahan dari Argentina pekan lalu, dan kemenangan atas Prancis yang minim tekanan tidak akan cukup meredam kritik terhadap Thomas Tuchel.

Tuchel direkrut dengan janji mampu membuat perbedaan di laga besar. Ketika janji itu gagal, yang tersisa hanyalah kemarahan. Kondisi ini membuka kekosongan inti dari penunjukannya: federasi kaya menutupi kelemahan pembinaan kepelatihan mereka dengan membayar pelatih mahal dari luar negeri. Gaya usang Tuchel yang mengandalkan kecepatan dan fisik ala Premier League justru dianggap sebagai langkah mundur.

Mengapa Gaya Usang Tuchel Dikritik?

Tuchel mengaku ingin bermain seperti tim Premier League: tempo tinggi dan fisik kuat. Namun, gaya seperti ini jarang berhasil untuk Inggris di turnamen besar. Mereka kerap kalah penguasaan bola di laga knockout krusial. Ironisnya, Tuchel sendiri yang memangkas banyak pemain penguasa bola dari skuadnya, seperti Adam Wharton, Trent Alexander-Arnold, dan Cole Palmer. Apakah hasilnya akan berbeda jika mereka dibawa? Mungkin tidak, tapi banyak dana telah dikeluarkan untuk mengembangkan tipe pemain Inggris yang berbeda dalam beberapa dekade terakhir.

Gaya usang Tuchel juga kontras dengan pendekatan tim junior Inggris. Tim U-21 Inggris baru saja memenangkan dua Kejuaraan Eropa berturut-turut dengan berani menguasai bola dan mengambil risiko. Lee Carsley, pelatih U-21, mendorong pemainnya untuk berani mengambil risiko dalam penguasaan bola. Sementara itu, Tuchel mengakhiri semifinal dengan melambungkan bola ke arah Dan Burn. Pragmatisme ini membuat Inggris gagal melepas kewaspadaan di saat genting.

Perbandingan dengan Spanyol: Pelatih Lokal Lebih Sukses?

Spanyol baru saja memenangkan Piala Dunia lainnya, dengan gaya penguasaan bola yang terlalu sulit bagi Argentina di final yang membosankan. Pelajaran berharga dari turnamen ini: dua tim terakhir yang bertahan dipimpin oleh pelatih lokal. Luis de la Fuente dan Lionel Scaloni naik pangkat dari dalam sistem, memiliki perasaan mendalam terhadap identitas negara mereka. Gaya usang Tuchel yang dipaksakan justru membuat Inggris kehilangan ciri khas.

Data menunjukkan tidak ada tim putra yang dipimpin pelatih asing yang pernah memenangkan Piala Dunia. Ini seharusnya menjadi peringatan bagi FA ketika mempekerjakan orang luar dengan mentalitas menang sekarang, yang menghasilkan gaya bermain sangat berbeda dengan kelompok usia muda. Brasil menunjuk Carlo Ancelotti namun tersingkir di 16 besar. Roberto Martínez gagal bersama Portugal setelah mempertahankan Cristiano Ronaldo. Mauricio Pochettino menyaksikan AS dipermalukan oleh Belgia. Semua contoh ini menguatkan bahwa gaya usang Tuchel bukanlah solusi jangka panjang.

FA Harus Evaluasi Strategi Kepelatihan

De la Fuente sebelumnya memenangkan Kejuaraan Eropa U-19 pada 2015 dan U-21 pada 2019. Ia membawa pemain-pemain muda naik level dan akhirnya memenangkan Euro senior 2024. Pemain yang mengalahkan Argentina di final Piala Dunia pernah bermain untuk De la Fuente di level junior. Spanyol menunjukkan transisi mulus, sementara Inggris justru mundur di bawah Tuchel.

Ini bukan berarti FA harus langsung menunjuk Carsley sebagai pelatih senior. Carsley sempat menjadi pelatih sementara dan dianggap belum memiliki temperamen untuk pekerjaan itu. Namun, pendekatannya lebih dekat dengan gaya Spanyol dan membuktikan tim Inggris bisa berani mengambil risiko. Gaya usang Tuchel yang keras kepala perlu dievaluasi ulang.

FA kini meninjau hasil Piala Dunia. Tuchel kemungkinan akan tetap memimpin di turnamen berikutnya. Finis ketiga bukanlah pelanggaran yang layak dipecat. Namun, FA tidak punya ide lain karena Tuchel bukan produk pembinaan, melainkan dibeli. Harapannya, Tuchel beradaptasi selama Nations League. Harus ada pergeseran dari gaya fisik ini. Tapi jangan kaget jika pandangan gaya usang Tuchel tentang DNA Inggris akhirnya membuatnya terkesan ketinggalan zaman. Hal ini tidak akan terjadi pada Spanyol karena De la Fuente tahu identitas mereka. Ia adalah bagian dari identitas itu.

Kesimpulan

Kritik terhadap gaya usang Tuchel bukan tanpa alasan. Inggris butuh pelatih yang berani mengambil risiko dan membangun identitas yang selaras dengan perkembangan pemain muda. FA harus belajar dari Spanyol: investasi pada pelatih lokal dan sistem pembinaan jangka panjang lebih berkelanjutan daripada membeli pelatih asing dengan gaya yang sudah tidak relevan. Tanpa perubahan, Inggris akan terus terjebak dalam siklus kekecewaan di turnamen besar.